Rabu, 08 Juli 2015

Kisah Wanita Penderita HIV/AIDS yang Dilecehkan Petugas Puskesmas


Social Media
Login     Tribun JualBeli
Rabu, 8 Juli 2015

Kisah Wanita Penderita HIV/AIDS yang Dilecehkan Petugas Puskesmas

Selasa, 7 Juli 2015 20:54

Kisah Wanita Penderita HIV/AIDS yang Dilecehkan Petugas Puskesmas
Net
Ilustrasi 

TRIBUNPEKANBARU.COM, UNGARAN - Pelayanan medis di Kabupaten Semarang kembali mendapat sorotan negatif. NN (27), seorang perempuan dari sebuah desa terpencil di wilayah Tengaran, Kabupaten Semarang, ditolak berobat di Puskesmas Tengaran gara-gara tidak membawa surat rujukan dokter.

Yang lebih menyakitkan, identitas NN yang kebetulan mengidap HIV/AIDS "dibocorkan" oleh salah seorang perawat. Perlakuan diskriminasi yang dialami NN itu diungkapkan oleh konselor dan aktivis HIV/AIDS Semarang, Andreas Bambang. Peristiwa itu sendiri terjadi pada Minggu, 5 juli lalu.

"Petugas tanya siapa dokter yang menyuruh? Klien menyebut nama saya. 'Oh, Andreas bukan dokter tapi yang ngurusi orang kena AIDS', bicara begitu sambil teriak sehingga banyak yang dengar. Dia (NN) ditolak, disuruh langsung ke IGD RSUD Salatiga," kata Andreas, Selasa (7/7/2015) siang.

Awalnya, lanjut Andreas, NN mengeluh sudah tiga hari mengalami panas tinggi, nyeri perut dan sakit pada benjolan di bagian leher sebelah kiri. Andreas lantas menyarankan NN untuk segera memeriksakan diri ke Puskesmas Tengaran agar mendapatkan layanan darurat. Namun sesampainya di sana, NN justru dilayani dengan buruk.

"Panas tinggi tentunya ada infeksi. Leher sebelah kiri ada benjolan juga terasa nyeri dan sakit nyeri perut berkepanjangan. Pastinya panas tinggi bagi siapapun kan mengkhawatirkan," jelas Andreas.

Tak tahan dengan rasa sakit yang diderita, NN bertolak ke RSU Salatiga. Lagi-lagi di sana dia ditolak setelah dokter jaga mengetahui bahwa NN adalah pasien dari dokter Lucky sehingga harus ada surat rujukan dokter tersebut. Dokter jaga juga beralasan tidak ada penyakit meskipun NN ngotot perutnya terasa sangat nyeri.

Kemudian NN ditawari suntik anti-nyeri tetapi harus membayar, meskipun pasien ini memegang Kartu Jamkesmas.



from pekanbaru tribunnews

0 komentar:

Posting Komentar